RAIN HUJAN

RAIN HUJAN

“Lo nggak tau kan, seberapa menderitanya hidup gue? Dan lo juga ngga pernah tau kan, seberapa hinanya hidup gue di dunia ini? Dan lo tau, ini semua karena siapah? Karena Hujan. Hujan yang udah buat gue kaya ginih.”

Semilir angin berhembus dengan kencang, menyapu debu yang berserakan di jalan. Dalam beberapa detik pun warna langit yang tadinya biru berubah seketika menjadi hitam keabu-abuan. Aku segera menepi dan mencari tempat berteduh, kali ini aku tidak lagi mood untuk bermain hujan hujanan. Aku hanya ingin menikmatinya di halte seberang jalan Melati. Hanya aku yang tersisa di halte ini… berdiri menatap segemericik air yang mengalir dengan lebatnya dari atas sana. Tiba tiba datang seorang lelaki dengan tampang flatnya berdiri tepat disampingku, sesekali menggerutu kecil karena bajunya yang basah karena hujan. “Dasar hujan sialan. Baju gue jadi basah gini deh, terus kapan gue pulangnya…” katanya sambil memainkan wajahnya yang masam. “Hujan itu datangnya dari Tuhan, dan gaada seorang pun yang bias menyalahkan semua kehendak Tuhan.” Ucapku sambil menatapnya perlahan. “Ini bukan masjid, dan kalo lo mau ceramah. Please, jangan didepan gue!!!” Kata cowok itu dengan tampang sok coolnya. Aku hanya cemberut menanggapi ucapannya.

Sekian detik terasa berjalan begitu lambatnya, apalagi ada si cowok menyebalkan ini disampingku. Ah…. Ingin rasanya aku menjambak rambutnya. bisa bisanya dia menjelekkan hujan didepanku. Dasar cowok menyebalkan…

Keesokan hari, seperti biasa setelah selasai dari kampus. Aku mampir ke Halte itu. Halte yang tepat berada diseberang jalan Melati. Aku duduk sesekali sambil menatap langit, dan berharap ada keajaiban tuhan yang akan menurunkan hujan saat ini. Aku benar benar sedang butuh siraman air hujan, akibat pelajaran kalkulus tadi yang sangat membuat otakku mengebul saking lelahnya. Dan tak lama kemudian,,,, air hujan pun turun tapi tak selebat kemarin. Ini hanya sebagian kecil nya hanya gerimis kecil yang turun dari langit. Tapi tak apalah, ini pun sudah cukup untukku. Setidaknya aku bisa bermain hujan hujan disore ini. Aku menari nari sambil berputar layaknya penari balet di pinggir jalan ini. Bersorak seperti anak kecil yang baru saja diperbolehkan bermain hujan oleh sang ibu. Aku tertawa dan sangat bergembira. Tapi kegembiraan itu seketika menghilang karena ada sosok lelaki menyebalkan yang meneriakiku “Heh, dasar cewe aneh. Kayak anak kecil ajah lo maen hujan hujanan segala. Gak punya kerjaan ya?” ucapnya seraya tersenum meremehkan kearahku. “Terus, masalahnya buat kamu apah? Aku suka hujan, jadi apapun yang aku lakuin bersama hujan itu bukan urusan kamu kan? Bilang ajah kamu sirik dan pengen maen hujan hujanan kayak aku.” Balasku sambil menjulurkan lidah kearahnya. “Apah? Sirik? Gue sirik sama lo… jangan keGEERan lo. Dasar cewe aneh. Dan asal lo tau ya, GUE BENCI SAMA YANG NAMANYA HUJAN!!”

Aku segera berdiri kehadapan lelaki menyebalkan itu, tampaknya aku sangat tertarik berdebat tentang hujan bersamanya kali ini. Aku ikut duduk disampingnya sesekali memandangi wajahnya dengan tatapan bingung dan aneh. “Kenapah kamu benci hujan?”tanyaku kearahnya. Dia hanya menatapku sekilas, dan mengalihkan pandangannya kedepan lagi. “Hey, aku Tanya sama kamu. Aku sedang bicara sama kamu, kenapah kamu benci dengan hujan?” ucapku sekali lagi. Dia terdiam sesaat, dan menghirup nafasnya lebih dalam dan berkata “Hujan itu membawa malapetaka bagi gue. Hujan selalu membuat gue menderita, membuat gue hidup sebatang kara, dan karena hujan juga semua orang yang gue sayang pergi meninggalkan gue. Dan sekarang, gue hidup sendiri, tanpa kasih sayang seorang pun.” Jawabnya sambil tersenyum getir. “Aku nggak ngerti. Lantas hubungannya dengan hujan apa? Hujan itu kan ciptaan tuhan juga, kalo kamu benci sama hujan. Berarti kamu benci sama ciptaan tuhan juga. Dan satu hal yang kamu tau, hujan itu pembawa rahmat dan rezeki loh.” Ucapku membela Hujan. Dia menatapku dengan pandangan marah “Lo nggak tau kan, seberapa menderitanya hidup gue? Dan lo juga ngga pernah tau kan, seberapa hinanya hidup gue di dunia ini? Dan lo tau, ini semua karena siapah? Karena Hujan. Hujan yang udah buat gue kaya ginih.” Aku terdiam, dan takut sekali untuk menatapnya. Ia lantas segera berdiri dan menerobos hujan dengan amarah yang masih didalam dirinya. Aku segera bangkit dan mengejar langkah nya. Aku menarik tangannya dan berusaha minta maaf padanya, “Aku minta maaf, aku ngga bermaksud buat kamu marah. Aku Cuma mau kamu berhenti untuk membenci hujan. Dan akan selalu menyukai hujan seperti aku.” Ia terdiam dan menatapku dengan tatapan teduh, “Gue maafin. Udah gue mau pulang.” Katanya sambil tetap terus melangkah. “Aku ikut…” ucapku sambil mengikutinya dari belakang. Ia sama sekali tak mempedulikan ucapanku, ia hanya melangkah dan terus melangkah lebih cepat. Hingga kami sampai disebuah tempat tinggal para pemulung, ia duduk tepat didepan rumah. Lebih tepatnya gubuk reot yang sangat mengenaskan bentuknya. Kami sama sama terdiam dan mengamati lingkungan sekitar tempat itu. Hingga akhirnya ku membuka pembicaraan “Nama kamu siapa?” tanyaku sambil menatap mata birunya. “Gue Rain. Rain Hujan.” Ucapnya pelan tanpa mengalihkan pandangan lurusnya. “Aku Tiara. Panggil aku Ara. Aku bingung, padahal namamu Hujan, tapi kenapa kamu membenci Hujan.” Ucapku dengan seribu tanda Tanya dikepalaku. Ah, lelaki ini sungguh misterius, membingungkan, dan menyebalkan. Dia kembali terdiam dan hanyut pada pikirannya sendiri, aku hanya bisa diam mengikutinya. “Dulu, nyokap gue meninggal saat setelah melahirkan gue. Dan kejadian itu terjadi saat langit sedang hujan lebat. Sebelum meninggal, beliau memakaikan sebuah kalung dengan tulisan hujan, ya, sama seperti lo. Beliau sangat suka dengan hujan. Dan yang kedua, bokap nggak pernah terima kenyataan kalo nyokap udah ngga ada. Sampe akhirnya bkap ngebuang gue, dan alasannya ngebuang gue. Gue jg baru tau belakangan ini, kalau beliau pengen punya anak perempuan dari alm. Nyokap gue, sedangkan yang lahir adalah anak laki laki yang hina dan bisanya menyusahkan dia doang kayak gue ginih. Dan lo tau? Saat bokap ngebuang gue, itu juga terjadi saat hujan lebat. Gue dihanyutin di kali, mungkin kalo ngga ada sepasang kakek nenek yang pernah merawat gue dulu. Gue udah mati karena hanyut. Dan yang ketiga, saat gue mulai merasa bahagia dan lengkap karena kasih sayang kakek nenek yang menemukan gue waktu itu, keduanya juga meninggalkan gue. Dan gak akan pernah kembali sama gue lagi. Keduanya meninggal tertimbun peristiwa longsor setelah hujan tahun 2009 lalu. Dan sekarang, lo bisa liat kan? Betapa hinanya dan deritanya hidup gue tanpa siapa pun. Tanpa kasih sayang orang tua yang bahkan gue ngga pernah tau, orang tua gue seperti apa? Bagaimana wajahnya? Gue ngga tau, dan mungkin gue ngga pernah tau. Hujan itu selalu membuat gue merasa jadi paling bodoh, paling hina. Dan gue ngga pantes untuk hidup. Hujan selalu merenggut semua kebahagiaan gue. Hujan selalu membuat gue menderita. Hujan membuat gue ngga punya arti apa apa di dunia ini. GUA BENCI HUJAN, DAN SELAMANYA GUE BENCI HUJAN.” Aku hanya bias diam dan terpaku mendengar semua penjelasannya… ternyata,,, dia menyimpan banyak amarah kepada hujan. Bagaiman aku bias merubah amarahnya menjadi cinta ya? Ucapku dalam hati. “Aku yakin, Tuhan punya rencana baik dan untuk kamu. Kamu harus percaya… kamu gak pernah sendirian, kamu masih punya Tuhan. Dan sekarang, kamu punya aku, aku mau kok jadi teman kamu.” Ucapku menenangkan seraya tersenyum manis kearahnya. “Heh,,, pede banget lo, siapa yang mau berteman sama lo. Hah?” tangkasnya menyebalkan, aku merengut dan cemberut. Ia pun tertawa dengan senangnya.

Hujan itu indah

Seindah bintang di langit malam

Secerah mentari di langit pagi

Dan sesejuk embun di kala fajar

Hujan mampu membuatku tersenyum dengan segala risau di hati

Hujan, mampu membuatku sejuk di kala dingin

Dan hujan, mampu membuatku lupa dengan keras dan kejamnya hidup ini

Jadi, seberapa lama aku berdiri di tengah hujan, aku tak pernah takut

Karena aku percaya, hujan adalah teman hidupku

Ia akan selalu melindungiku dengan air nya

Air yang mampu menyejukkan hatiku

Air yang selalu mampu menyinari hidup kelamku…

“Ih, dasar MONSTER HUJAN. Segala hujanlah dipuji puji, dibikinin puisi, lo kira dengan begitu? Hujan bakal ngeliat dan berteman sama lo? Hah?” ucap Rain yang tiba tiba saja sudah berada tepat dibelakangku, dan yang lebih menyebalkannya lagi dia membaca tulisanku tentang Hujan, lantas memperoloknya. “Ihhhhhhhhhh… dasar kamu nyebelin. Nggak sopan banget. Asal kamu tau, Hujan lebih berharga dan bernilai manfaatnya dibanding kamu. Hujan selalu membuat manusia tidak kekeringan, hujan mampu memberikan kesejukkan dan ketenangan, dan hujan adalah pembawa rahmat dari Tuhan.” Balasku sengit. “Cewek aneh dasar… MONSTER HUJAN JELEK. “ Ucapnya sambil menjulurkan lidah. Tik tik tik tik tik……….. hujan pun turun ditengah kami, Rain langsung terburu meneduh dan menghindar dari hujan. Sedangkan aku tetap berdiri ditengah sini, menengadahkan wajahku keatas seraya menatap dan tersenyum kepada langit sebagai ucapan terima kasih atas hujan sore ini. Aku kembali memainkan tubuhku dan menari berputar-putar dengan riang. Rain menatapku geli dari kejauhan. Aku hanya melambaikan tangan berusaha mengajaknya bergabung. Dengan tegas ia menolakku dan berkata. “Udah berapa kali gue bilang, GUE GAK SUKA HUJAN. DAN GAK AKAN PERNAH MENYUKAINYA….” Teriaknya kencang denga wajah galaknya.

Hujan mulai mereda beberapa menit kemudian, aku kembali menghampiri Rain yang tengah duduk di halte seperti biasa. “Hujannya cepat sekali reda, aku kurang puas bermain bersamanya.” Ucapku dengan langkah gontai. Rain hanya menggelengkan kepalanya bertanda ia tak peduli. Tiba tiba saja kepalaku mendadak pusing, badanku terasa bergetar hebat dan menggigil, “Rain… Ra… iiiin…” Tiba-tiba tubuhku jatuh tergeletak begitu saja, Rain panik sekaligus bingung dibuatnya. Ia pun memapah tubuhku ke bangku halte sambil meneriakkan namaku, “Ra,,,, Ra,,, lo bangun dong. Lo kenapah si? Ra,, Please, jangan bikin gue bingung ginih.” Ucapnya dengan wajah kebingungan. Tak lama kemudian ia memajukkan wajahnya ke wajahku dengan bermaksud memberikan nafas buatan untuku agar aku segera tersadar, “Ahhhhhhhhh,,, kamu mau ngapain aku?” teriakku kencang tepat didepan wajahnya. Wajahnya terlihat tersipu merah dan malu. “Kamu mau cium aku?” ucapku dengan nada polos. “Hah? Gue mau nyium lo? Naksir ajah ogah, apalagi nyium lo. MALES…” Aku hanya bisa cemberut dibuatnya.

Keesokan harinya seperti biasa, saat sore hari hendak berlalu dan senja mulai datang menghampiri. Aku kembali terduduk di halte ini, dengan wajah muram dan masam aku terdiam tanpa banyak kata. Lagi dan lagi Rain selalu ada saat aku beada disini, entah kenapa aku selalu menyukai kehadirannya. Dan entah kenapa pula, aku tak mengerti sejak mengenalnya ia selalu menemaniku tanpa sengaja tanpa janji. Ia lantas duduk disampingku, menatapku dengan banyak tanda Tanya. Ya, benar. Kali ini aku berbeda. Rasa sakit ini kembali muncul, aku sungguh takut, takut kehilangan semuanya. Aku takut untuk tidak bisa menikmati hujan, aku takut kehilangan dan tak bisa bersama hujan, dan bersama RAIN. “Eh, lo kenapah diem ajah? Sakit gigi lo?”ucapnya seraya meledekku. Aku hanya menggeleng mendengar pertanyaannya. Lama terdiam aku dan rain pun membisu, tak banyak yang kami obrolkan. Lebih tepatnya, kali ini rain yang sering banyak bertanya tentangku. Dan kau tau? Aku hanya mengangguk dan menggeleng ketika a melemparkan pertanyaanya padaku. “Lo sakit yah?” tanyanya lagi. “Aku ngga papah, Rain.” Seruku mulai bersuara. ”Rain… sekarang kita berteman kan?” tanyaku seraya menatapnya. “Ya… “ jawab Rain singkat. “Kamu mau kan berjanji satu hal padaku?” tanyaku lagi, kali ini aku menatap mata birunya lebih dalam. Aku juga tak mengerti mengapa aku bisa berkata seperti ini, yang jelas hatiku yang mengucapkan semuanya. “Kamu harus janji, jika suatu saat nanti. aku udah nggak disini lagi, dan aku nggak bisa menikmati hujan pemberian Tuhan, Dan Aku udah kembali dan bahagia sama Tuhan. Kamu harus janji, kamu akan menggantikan posisi aku untukmtetap ada disini, saat hujan turun dan saat senja menyapa seperti sore ini. “ “Maksud lo apasih? Gue kan gak suka hujan. Jadi, kalo lo minta gue duduk disini saat hujan datang dan berloncatan dan menari nari seperti hal yang selalu lo lakuin saat hujan datang. Itu mustahil, dan gak mungkin. Ngerti?” “Ini permintaan terakhir aku Rain… aku pengen kamu adalah orang pertama yang selalu mengenang aku, aku pengen kamu yang selalu duduk disini, aku pengen kamu yang selalu suka hujan, seperti layaknya aku yang menyukai hujan.” rain pergi begitu saja tanpa menghiraukan ucapanku sedikitpun. Tanpa terasa air mataku menetas, kalian tau? Hatiku terasa sakit sekali melihat sikapnya tadi. Apa aku tak berarti dimatanya? Apa aku tak bisa menjadi sepotong kenangan dihatinya?

Sudah dua hari ini hujan tak lekas turun membasahi bumi, aku rindu sekali dengan hujan. Dadaku terasa sesak seketika, rasa sakit ini mulai terasa sekali, oh Tuhan aku tak kuat, aku benar benar tak sanggup menahan ini semua kali ini. Aku terduduk lemas di bangku halte ini, seraya berharap ada seseorang yang dating mengahmpiriku. Dan Rain, ya dia Rain berjalan menuju ke arahku… “Ra…in… rain… aku sayang kamu…” itulah ucapan terakhirku untuknya. Tiba tiba saja sakit ini semuanya menghilang, aku terkulai kaku dihadapan Rain. “Ra,,,, Tiara… lo bangun ra… TIARAAAA….” Teriaknya keras. “Kenapa lo ninggalin gue ra? Kenapa lo setega ini sama gue? Lo tau kan? Lo adalah orang pertama yang mau kenal sama gue? Yang mau jadi temen baik gue, selalu disamping gue. Tapi kenapa sekarang lo pergi ninggalin gue? Kenapa lo pergi disaat saat kaya ginih, kenapa lo pergi disaat lo udah berhasil buat gue jatuh cinta sama lo ra. Lo jahat ra, lo jahat…” Rain mengeluarkan air matanya, untuk pertama kalinya aku melihat tetesan air mata itu jatuh dari mata biru Rain, untuk pertama kalinya, aku merasakan bahwa Rain sangat sangat kehilanganku. Dan utuk pertama kalinya, aku tersenyum getir diatas sini menatap Rain… hujan turun seketika membasahi bumi, membasahi tubuh Rain dan tubuh kaku ku. Rain segera ke tengah jalan dan berteriak teriak… “Lihat ra, lihat. Gue bakal nepatin janji gue. Lihat, sekarang gue disini, main hujan hujanan, nari nari seperti yang selalu lo lakuin. Lihat Ra,,,, sekarang gue suka hujan, gue suka hujan untuk lo. Gue suka hujan untuk mengenang lo.” “Walaupun, gue baru kenal sama lo terhitung hari, tapi entah kenapa hati gue serasa kenal dengan lo sejak lama. Gue sayang lo ra,, gue tau ini terlambat, tapi gue percaya lo bisa ngeliat ini kan? Ngeliat semua ini… “

RAIN HUJAN

“Lo nggak tau kan, seberapa menderitanya hidup gue? Dan lo juga ngga pernah tau kan, seberapa hinanya hidup gue di dunia ini? Dan lo tau, ini semua karena siapah? Karena Hujan. Hujan yang udah buat gue kaya ginih.”

Semilir angin berhembus dengan kencang, menyapu debu yang berserakan di jalan. Dalam beberapa detik pun warna langit yang tadinya biru berubah seketika menjadi hitam keabu-abuan. Aku segera menepi dan mencari tempat berteduh, kali ini aku tidak lagi mood untuk bermain hujan hujanan. Aku hanya ingin menikmatinya di halte seberang jalan Melati. Hanya aku yang tersisa di halte ini… berdiri menatap segemericik air yang mengalir dengan lebatnya dari atas sana. Tiba tiba datang seorang lelaki dengan tampang flatnya berdiri tepat disampingku, sesekali menggerutu kecil karena bajunya yang basah karena hujan. “Dasar hujan sialan. Baju gue jadi basah gini deh, terus kapan gue pulangnya…” katanya sambil memainkan wajahnya yang masam. “Hujan itu datangnya dari Tuhan, dan gaada seorang pun yang bias menyalahkan semua kehendak Tuhan.” Ucapku sambil menatapnya perlahan. “Ini bukan masjid, dan kalo lo mau ceramah. Please, jangan didepan gue!!!” Kata cowok itu dengan tampang sok coolnya. Aku hanya cemberut menanggapi ucapannya.

Sekian detik terasa berjalan begitu lambatnya, apalagi ada si cowok menyebalkan ini disampingku. Ah…. Ingin rasanya aku menjambak rambutnya. bisa bisanya dia menjelekkan hujan didepanku. Dasar cowok menyebalkan…

Keesokan hari, seperti biasa setelah selasai dari kampus. Aku mampir ke Halte itu. Halte yang tepat berada diseberang jalan Melati. Aku duduk sesekali sambil menatap langit, dan berharap ada keajaiban tuhan yang akan menurunkan hujan saat ini. Aku benar benar sedang butuh siraman air hujan, akibat pelajaran kalkulus tadi yang sangat membuat otakku mengebul saking lelahnya. Dan tak lama kemudian,,,, air hujan pun turun tapi tak selebat kemarin. Ini hanya sebagian kecil nya hanya gerimis kecil yang turun dari langit. Tapi tak apalah, ini pun sudah cukup untukku. Setidaknya aku bisa bermain hujan hujan disore ini. Aku menari nari sambil berputar layaknya penari balet di pinggir jalan ini. Bersorak seperti anak kecil yang baru saja diperbolehkan bermain hujan oleh sang ibu. Aku tertawa dan sangat bergembira. Tapi kegembiraan itu seketika menghilang karena ada sosok lelaki menyebalkan yang meneriakiku “Heh, dasar cewe aneh. Kayak anak kecil ajah lo maen hujan hujanan segala. Gak punya kerjaan ya?” ucapnya seraya tersenum meremehkan kearahku. “Terus, masalahnya buat kamu apah? Aku suka hujan, jadi apapun yang aku lakuin bersama hujan itu bukan urusan kamu kan? Bilang ajah kamu sirik dan pengen maen hujan hujanan kayak aku.” Balasku sambil menjulurkan lidah kearahnya. “Apah? Sirik? Gue sirik sama lo… jangan keGEERan lo. Dasar cewe aneh. Dan asal lo tau ya, GUE BENCI SAMA YANG NAMANYA HUJAN!!”

Aku segera berdiri kehadapan lelaki menyebalkan itu, tampaknya aku sangat tertarik berdebat tentang hujan bersamanya kali ini. Aku ikut duduk disampingnya sesekali memandangi wajahnya dengan tatapan bingung dan aneh. “Kenapah kamu benci hujan?”tanyaku kearahnya. Dia hanya menatapku sekilas, dan mengalihkan pandangannya kedepan lagi. “Hey, aku Tanya sama kamu. Aku sedang bicara sama kamu, kenapah kamu benci dengan hujan?” ucapku sekali lagi. Dia terdiam sesaat, dan menghirup nafasnya lebih dalam dan berkata “Hujan itu membawa malapetaka bagi gue. Hujan selalu membuat gue menderita, membuat gue hidup sebatang kara, dan karena hujan juga semua orang yang gue sayang pergi meninggalkan gue. Dan sekarang, gue hidup sendiri, tanpa kasih sayang seorang pun.” Jawabnya sambil tersenyum getir. “Aku nggak ngerti. Lantas hubungannya dengan hujan apa? Hujan itu kan ciptaan tuhan juga, kalo kamu benci sama hujan. Berarti kamu benci sama ciptaan tuhan juga. Dan satu hal yang kamu tau, hujan itu pembawa rahmat dan rezeki loh.” Ucapku membela Hujan. Dia menatapku dengan pandangan marah “Lo nggak tau kan, seberapa menderitanya hidup gue? Dan lo juga ngga pernah tau kan, seberapa hinanya hidup gue di dunia ini? Dan lo tau, ini semua karena siapah? Karena Hujan. Hujan yang udah buat gue kaya ginih.” Aku terdiam, dan takut sekali untuk menatapnya. Ia lantas segera berdiri dan menerobos hujan dengan amarah yang masih didalam dirinya. Aku segera bangkit dan mengejar langkah nya. Aku menarik tangannya dan berusaha minta maaf padanya, “Aku minta maaf, aku ngga bermaksud buat kamu marah. Aku Cuma mau kamu berhenti untuk membenci hujan. Dan akan selalu menyukai hujan seperti aku.” Ia terdiam dan menatapku dengan tatapan teduh, “Gue maafin. Udah gue mau pulang.” Katanya sambil tetap terus melangkah. “Aku ikut…” ucapku sambil mengikutinya dari belakang. Ia sama sekali tak mempedulikan ucapanku, ia hanya melangkah dan terus melangkah lebih cepat. Hingga kami sampai disebuah tempat tinggal para pemulung, ia duduk tepat didepan rumah. Lebih tepatnya gubuk reot yang sangat mengenaskan bentuknya. Kami sama sama terdiam dan mengamati lingkungan sekitar tempat itu. Hingga akhirnya ku membuka pembicaraan “Nama kamu siapa?” tanyaku sambil menatap mata birunya. “Gue Rain. Rain Hujan.” Ucapnya pelan tanpa mengalihkan pandangan lurusnya. “Aku Tiara. Panggil aku Ara. Aku bingung, padahal namamu Hujan, tapi kenapa kamu membenci Hujan.” Ucapku dengan seribu tanda Tanya dikepalaku. Ah, lelaki ini sungguh misterius, membingungkan, dan menyebalkan. Dia kembali terdiam dan hanyut pada pikirannya sendiri, aku hanya bisa diam mengikutinya. “Dulu, nyokap gue meninggal saat setelah melahirkan gue. Dan kejadian itu terjadi saat langit sedang hujan lebat. Sebelum meninggal, beliau memakaikan sebuah kalung dengan tulisan hujan, ya, sama seperti lo. Beliau sangat suka dengan hujan. Dan yang kedua, bokap nggak pernah terima kenyataan kalo nyokap udah ngga ada. Sampe akhirnya bkap ngebuang gue, dan alasannya ngebuang gue. Gue jg baru tau belakangan ini, kalau beliau pengen punya anak perempuan dari alm. Nyokap gue, sedangkan yang lahir adalah anak laki laki yang hina dan bisanya menyusahkan dia doang kayak gue ginih. Dan lo tau? Saat bokap ngebuang gue, itu juga terjadi saat hujan lebat. Gue dihanyutin di kali, mungkin kalo ngga ada sepasang kakek nenek yang pernah merawat gue dulu. Gue udah mati karena hanyut. Dan yang ketiga, saat gue mulai merasa bahagia dan lengkap karena kasih sayang kakek nenek yang menemukan gue waktu itu, keduanya juga meninggalkan gue. Dan gak akan pernah kembali sama gue lagi. Keduanya meninggal tertimbun peristiwa longsor setelah hujan tahun 2009 lalu. Dan sekarang, lo bisa liat kan? Betapa hinanya dan deritanya hidup gue tanpa siapa pun. Tanpa kasih sayang orang tua yang bahkan gue ngga pernah tau, orang tua gue seperti apa? Bagaimana wajahnya? Gue ngga tau, dan mungkin gue ngga pernah tau. Hujan itu selalu membuat gue merasa jadi paling bodoh, paling hina. Dan gue ngga pantes untuk hidup. Hujan selalu merenggut semua kebahagiaan gue. Hujan selalu membuat gue menderita. Hujan membuat gue ngga punya arti apa apa di dunia ini. GUA BENCI HUJAN, DAN SELAMANYA GUE BENCI HUJAN.” Aku hanya bias diam dan terpaku mendengar semua penjelasannya… ternyata,,, dia menyimpan banyak amarah kepada hujan. Bagaiman aku bias merubah amarahnya menjadi cinta ya? Ucapku dalam hati. “Aku yakin, Tuhan punya rencana baik dan untuk kamu. Kamu harus percaya… kamu gak pernah sendirian, kamu masih punya Tuhan. Dan sekarang, kamu punya aku, aku mau kok jadi teman kamu.” Ucapku menenangkan seraya tersenyum manis kearahnya. “Heh,,, pede banget lo, siapa yang mau berteman sama lo. Hah?” tangkasnya menyebalkan, aku merengut dan cemberut. Ia pun tertawa dengan senangnya.

Hujan itu indah

Seindah bintang di langit malam

Secerah mentari di langit pagi

Dan sesejuk embun di kala fajar

Hujan mampu membuatku tersenyum dengan segala risau di hati

Hujan, mampu membuatku sejuk di kala dingin

Dan hujan, mampu membuatku lupa dengan keras dan kejamnya hidup ini

Jadi, seberapa lama aku berdiri di tengah hujan, aku tak pernah takut

Karena aku percaya, hujan adalah teman hidupku

Ia akan selalu melindungiku dengan air nya

Air yang mampu menyejukkan hatiku

Air yang selalu mampu menyinari hidup kelamku…

“Ih, dasar MONSTER HUJAN. Segala hujanlah dipuji puji, dibikinin puisi, lo kira dengan begitu? Hujan bakal ngeliat dan berteman sama lo? Hah?” ucap Rain yang tiba tiba saja sudah berada tepat dibelakangku, dan yang lebih menyebalkannya lagi dia membaca tulisanku tentang Hujan, lantas memperoloknya. “Ihhhhhhhhhh… dasar kamu nyebelin. Nggak sopan banget. Asal kamu tau, Hujan lebih berharga dan bernilai manfaatnya dibanding kamu. Hujan selalu membuat manusia tidak kekeringan, hujan mampu memberikan kesejukkan dan ketenangan, dan hujan adalah pembawa rahmat dari Tuhan.” Balasku sengit. “Cewek aneh dasar… MONSTER HUJAN JELEK. “ Ucapnya sambil menjulurkan lidah. Tik tik tik tik tik……….. hujan pun turun ditengah kami, Rain langsung terburu meneduh dan menghindar dari hujan. Sedangkan aku tetap berdiri ditengah sini, menengadahkan wajahku keatas seraya menatap dan tersenyum kepada langit sebagai ucapan terima kasih atas hujan sore ini. Aku kembali memainkan tubuhku dan menari berputar-putar dengan riang. Rain menatapku geli dari kejauhan. Aku hanya melambaikan tangan berusaha mengajaknya bergabung. Dengan tegas ia menolakku dan berkata. “Udah berapa kali gue bilang, GUE GAK SUKA HUJAN. DAN GAK AKAN PERNAH MENYUKAINYA….” Teriaknya kencang denga wajah galaknya.

Hujan mulai mereda beberapa menit kemudian, aku kembali menghampiri Rain yang tengah duduk di halte seperti biasa. “Hujannya cepat sekali reda, aku kurang puas bermain bersamanya.” Ucapku dengan langkah gontai. Rain hanya menggelengkan kepalanya bertanda ia tak peduli. Tiba tiba saja kepalaku mendadak pusing, badanku terasa bergetar hebat dan menggigil, “Rain… Ra… iiiin…” Tiba-tiba tubuhku jatuh tergeletak begitu saja, Rain panik sekaligus bingung dibuatnya. Ia pun memapah tubuhku ke bangku halte sambil meneriakkan namaku, “Ra,,,, Ra,,, lo bangun dong. Lo kenapah si? Ra,, Please, jangan bikin gue bingung ginih.” Ucapnya dengan wajah kebingungan. Tak lama kemudian ia memajukkan wajahnya ke wajahku dengan bermaksud memberikan nafas buatan untuku agar aku segera tersadar, “Ahhhhhhhhh,,, kamu mau ngapain aku?” teriakku kencang tepat didepan wajahnya. Wajahnya terlihat tersipu merah dan malu. “Kamu mau cium aku?” ucapku dengan nada polos. “Hah? Gue mau nyium lo? Naksir ajah ogah, apalagi nyium lo. MALES…” Aku hanya bisa cemberut dibuatnya.

Keesokan harinya seperti biasa, saat sore hari hendak berlalu dan senja mulai datang menghampiri. Aku kembali terduduk di halte ini, dengan wajah muram dan masam aku terdiam tanpa banyak kata. Lagi dan lagi Rain selalu ada saat aku beada disini, entah kenapa aku selalu menyukai kehadirannya. Dan entah kenapa pula, aku tak mengerti sejak mengenalnya ia selalu menemaniku tanpa sengaja tanpa janji. Ia lantas duduk disampingku, menatapku dengan banyak tanda Tanya. Ya, benar. Kali ini aku berbeda. Rasa sakit ini kembali muncul, aku sungguh takut, takut kehilangan semuanya. Aku takut untuk tidak bisa menikmati hujan, aku takut kehilangan dan tak bisa bersama hujan, dan bersama RAIN. “Eh, lo kenapah diem ajah? Sakit gigi lo?”ucapnya seraya meledekku. Aku hanya menggeleng mendengar pertanyaannya. Lama terdiam aku dan rain pun membisu, tak banyak yang kami obrolkan. Lebih tepatnya, kali ini rain yang sering banyak bertanya tentangku. Dan kau tau? Aku hanya mengangguk dan menggeleng ketika a melemparkan pertanyaanya padaku. “Lo sakit yah?” tanyanya lagi. “Aku ngga papah, Rain.” Seruku mulai bersuara. ”Rain… sekarang kita berteman kan?” tanyaku seraya menatapnya. “Ya… “ jawab Rain singkat. “Kamu mau kan berjanji satu hal padaku?” tanyaku lagi, kali ini aku menatap mata birunya lebih dalam. Aku juga tak mengerti mengapa aku bisa berkata seperti ini, yang jelas hatiku yang mengucapkan semuanya. “Kamu harus janji, jika suatu saat nanti. aku udah nggak disini lagi, dan aku nggak bisa menikmati hujan pemberian Tuhan, Dan Aku udah kembali dan bahagia sama Tuhan. Kamu harus janji, kamu akan menggantikan posisi aku untukmtetap ada disini, saat hujan turun dan saat senja menyapa seperti sore ini. “ “Maksud lo apasih? Gue kan gak suka hujan. Jadi, kalo lo minta gue duduk disini saat hujan datang dan berloncatan dan menari nari seperti hal yang selalu lo lakuin saat hujan datang. Itu mustahil, dan gak mungkin. Ngerti?” “Ini permintaan terakhir aku Rain… aku pengen kamu adalah orang pertama yang selalu mengenang aku, aku pengen kamu yang selalu duduk disini, aku pengen kamu yang selalu suka hujan, seperti layaknya aku yang menyukai hujan.” rain pergi begitu saja tanpa menghiraukan ucapanku sedikitpun. Tanpa terasa air mataku menetas, kalian tau? Hatiku terasa sakit sekali melihat sikapnya tadi. Apa aku tak berarti dimatanya? Apa aku tak bisa menjadi sepotong kenangan dihatinya?

Sudah dua hari ini hujan tak lekas turun membasahi bumi, aku rindu sekali dengan hujan. Dadaku terasa sesak seketika, rasa sakit ini mulai terasa sekali, oh Tuhan aku tak kuat, aku benar benar tak sanggup menahan ini semua kali ini. Aku terduduk lemas di bangku halte ini, seraya berharap ada seseorang yang dating mengahmpiriku. Dan Rain, ya dia Rain berjalan menuju ke arahku… “Ra…in… rain… aku sayang kamu…” itulah ucapan terakhirku untuknya. Tiba tiba saja sakit ini semuanya menghilang, aku terkulai kaku dihadapan Rain. “Ra,,,, Tiara… lo bangun ra… TIARAAAA….” Teriaknya keras. “Kenapa lo ninggalin gue ra? Kenapa lo setega ini sama gue? Lo tau kan? Lo adalah orang pertama yang mau kenal sama gue? Yang mau jadi temen baik gue, selalu disamping gue. Tapi kenapa sekarang lo pergi ninggalin gue? Kenapa lo pergi disaat saat kaya ginih, kenapa lo pergi disaat lo udah berhasil buat gue jatuh cinta sama lo ra. Lo jahat ra, lo jahat…” Rain mengeluarkan air matanya, untuk pertama kalinya aku melihat tetesan air mata itu jatuh dari mata biru Rain, untuk pertama kalinya, aku merasakan bahwa Rain sangat sangat kehilanganku. Dan utuk pertama kalinya, aku tersenyum getir diatas sini menatap Rain… hujan turun seketika membasahi bumi, membasahi tubuh Rain dan tubuh kaku ku. Rain segera ke tengah jalan dan berteriak teriak… “Lihat ra, lihat. Gue bakal nepatin janji gue. Lihat, sekarang gue disini, main hujan hujanan, nari nari seperti yang selalu lo lakuin. Lihat Ra,,,, sekarang gue suka hujan, gue suka hujan untuk lo. Gue suka hujan untuk mengenang lo.” “Walaupun, gue baru kenal sama lo terhitung hari, tapi entah kenapa hati gue serasa kenal dengan lo sejak lama. Gue sayang lo ra,, gue tau ini terlambat, tapi gue percaya lo bisa ngeliat ini kan? Ngeliat semua ini… “

RAIN HUJAN
“Lo nggak tau kan, seberapa menderitanya hidup gue? Dan lo juga ngga pernah tau kan, seberapa hinanya hidup gue di dunia ini? Dan lo tau, ini semua karena siapah? Karena Hujan. Hujan yang udah buat gue kaya ginih.”
Semilir angin berhembus dengan kencang, menyapu debu yang berserakan di jalan. Dalam beberapa detik pun warna langit yang tadinya biru berubah seketika menjadi hitam keabu-abuan. Aku segera menepi dan mencari tempat berteduh, kali ini aku tidak lagi mood untuk bermain hujan hujanan. Aku hanya ingin menikmatinya di halte seberang jalan Melati. Hanya aku yang tersisa di halte ini… berdiri menatap segemericik air yang mengalir dengan lebatnya dari atas sana. Tiba tiba datang seorang lelaki dengan tampang flatnya berdiri tepat disampingku, sesekali menggerutu kecil karena bajunya yang basah karena hujan. “Dasar hujan sialan. Baju gue jadi basah gini deh, terus kapan gue pulangnya…” katanya sambil memainkan wajahnya yang masam. “Hujan itu datangnya dari Tuhan, dan gaada seorang pun yang bias menyalahkan semua kehendak Tuhan.” Ucapku sambil menatapnya perlahan. “Ini bukan masjid, dan kalo lo mau ceramah. Please, jangan didepan gue!!!” Kata cowok itu dengan tampang sok coolnya. Aku hanya cemberut menanggapi ucapannya.
Sekian detik terasa berjalan begitu lambatnya, apalagi ada si cowok menyebalkan ini disampingku. Ah…. Ingin rasanya aku menjambak rambutnya. bisa bisanya dia menjelekkan hujan didepanku. Dasar cowok menyebalkan…
Keesokan hari, seperti biasa setelah selasai dari kampus. Aku mampir ke Halte itu. Halte yang tepat berada diseberang jalan Melati. Aku duduk sesekali sambil menatap langit, dan berharap ada keajaiban tuhan yang akan menurunkan hujan saat ini. Aku benar benar sedang butuh siraman air hujan, akibat pelajaran kalkulus tadi yang sangat membuat otakku mengebul saking lelahnya. Dan tak lama kemudian,,,, air hujan pun turun tapi tak selebat kemarin. Ini hanya sebagian kecil nya hanya gerimis kecil yang turun dari langit. Tapi tak apalah, ini pun sudah cukup untukku. Setidaknya aku bisa bermain hujan hujan disore ini. Aku menari nari sambil berputar layaknya penari balet di pinggir jalan ini. Bersorak seperti anak kecil yang baru saja diperbolehkan bermain hujan oleh sang ibu. Aku tertawa dan sangat bergembira. Tapi kegembiraan itu seketika menghilang karena ada sosok lelaki menyebalkan yang meneriakiku “Heh, dasar cewe aneh. Kayak anak kecil ajah lo maen hujan hujanan segala. Gak punya kerjaan ya?” ucapnya seraya tersenum meremehkan kearahku. “Terus, masalahnya buat kamu apah? Aku suka hujan, jadi apapun yang aku lakuin bersama hujan itu bukan urusan kamu kan? Bilang ajah kamu sirik dan pengen maen hujan hujanan kayak aku.” Balasku sambil menjulurkan lidah kearahnya. “Apah? Sirik? Gue sirik sama lo… jangan keGEERan lo. Dasar cewe aneh. Dan asal lo tau ya, GUE BENCI SAMA YANG NAMANYA HUJAN!!”
Aku segera berdiri kehadapan lelaki menyebalkan itu, tampaknya aku sangat tertarik berdebat tentang hujan bersamanya kali ini. Aku ikut duduk disampingnya sesekali memandangi wajahnya dengan tatapan bingung dan aneh. “Kenapah kamu benci hujan?”tanyaku kearahnya. Dia hanya menatapku sekilas, dan mengalihkan pandangannya kedepan lagi. “Hey, aku Tanya sama kamu. Aku sedang bicara sama kamu, kenapah kamu benci dengan hujan?” ucapku sekali lagi. Dia terdiam sesaat, dan menghirup nafasnya lebih dalam dan berkata “Hujan itu membawa malapetaka bagi gue. Hujan selalu membuat gue menderita, membuat gue hidup sebatang kara, dan karena hujan juga semua orang yang gue sayang pergi meninggalkan gue. Dan sekarang, gue hidup sendiri, tanpa kasih sayang seorang pun.” Jawabnya sambil tersenyum getir. “Aku nggak ngerti. Lantas hubungannya dengan hujan apa? Hujan itu kan ciptaan tuhan juga, kalo kamu benci sama hujan. Berarti kamu benci sama ciptaan tuhan juga. Dan satu hal yang kamu tau, hujan itu pembawa rahmat dan rezeki loh.” Ucapku membela Hujan. Dia menatapku dengan pandangan marah “Lo nggak tau kan, seberapa menderitanya hidup gue? Dan lo juga ngga pernah tau kan, seberapa hinanya hidup gue di dunia ini? Dan lo tau, ini semua karena siapah? Karena Hujan. Hujan yang udah buat gue kaya ginih.” Aku terdiam, dan takut sekali untuk menatapnya. Ia lantas segera berdiri dan menerobos hujan dengan amarah yang masih didalam dirinya. Aku segera bangkit dan mengejar langkah nya. Aku menarik tangannya dan berusaha minta maaf padanya, “Aku minta maaf, aku ngga bermaksud buat kamu marah. Aku Cuma mau kamu berhenti untuk membenci hujan. Dan akan selalu menyukai hujan seperti aku.” Ia terdiam dan menatapku dengan tatapan teduh, “Gue maafin. Udah gue mau pulang.” Katanya sambil tetap terus melangkah. “Aku ikut…” ucapku sambil mengikutinya dari belakang. Ia sama sekali tak mempedulikan ucapanku, ia hanya melangkah dan terus melangkah lebih cepat. Hingga kami sampai disebuah tempat tinggal para pemulung, ia duduk tepat didepan rumah. Lebih tepatnya gubuk reot yang sangat mengenaskan bentuknya. Kami sama sama terdiam dan mengamati lingkungan sekitar tempat itu. Hingga akhirnya ku membuka pembicaraan “Nama kamu siapa?” tanyaku sambil menatap mata birunya. “Gue Rain. Rain Hujan.” Ucapnya pelan tanpa mengalihkan pandangan lurusnya. “Aku Tiara. Panggil aku Ara. Aku bingung, padahal namamu Hujan, tapi kenapa kamu membenci Hujan.” Ucapku dengan seribu tanda Tanya dikepalaku. Ah, lelaki ini sungguh misterius, membingungkan, dan menyebalkan. Dia kembali terdiam dan hanyut pada pikirannya sendiri, aku hanya bisa diam mengikutinya. “Dulu, nyokap gue meninggal saat setelah melahirkan gue. Dan kejadian itu terjadi saat langit sedang hujan lebat. Sebelum meninggal, beliau memakaikan sebuah kalung dengan tulisan hujan, ya, sama seperti lo. Beliau sangat suka dengan hujan. Dan yang kedua, bokap nggak pernah terima kenyataan kalo nyokap udah ngga ada. Sampe akhirnya bkap ngebuang gue, dan alasannya ngebuang gue. Gue jg baru tau belakangan ini, kalau beliau pengen punya anak perempuan dari alm. Nyokap gue, sedangkan yang lahir adalah anak laki laki yang hina dan bisanya menyusahkan dia doang kayak gue ginih. Dan lo tau? Saat bokap ngebuang gue, itu juga terjadi saat hujan lebat. Gue dihanyutin di kali, mungkin kalo ngga ada sepasang kakek nenek yang pernah merawat gue dulu. Gue udah mati karena hanyut. Dan yang ketiga, saat gue mulai merasa bahagia dan lengkap karena kasih sayang kakek nenek yang menemukan gue waktu itu, keduanya juga meninggalkan gue. Dan gak akan pernah kembali sama gue lagi. Keduanya meninggal tertimbun peristiwa longsor setelah hujan tahun 2009 lalu. Dan sekarang, lo bisa liat kan? Betapa hinanya dan deritanya hidup gue tanpa siapa pun. Tanpa kasih sayang orang tua yang bahkan gue ngga pernah tau, orang tua gue seperti apa? Bagaimana wajahnya? Gue ngga tau, dan mungkin gue ngga pernah tau. Hujan itu selalu membuat gue merasa jadi paling bodoh, paling hina. Dan gue ngga pantes untuk hidup. Hujan selalu merenggut semua kebahagiaan gue. Hujan selalu membuat gue menderita. Hujan membuat gue ngga punya arti apa apa di dunia ini. GUA BENCI HUJAN, DAN SELAMANYA GUE BENCI HUJAN.” Aku hanya bias diam dan terpaku mendengar semua penjelasannya… ternyata,,, dia menyimpan banyak amarah kepada hujan. Bagaiman aku bias merubah amarahnya menjadi cinta ya? Ucapku dalam hati. “Aku yakin, Tuhan punya rencana baik dan untuk kamu. Kamu harus percaya… kamu gak pernah sendirian, kamu masih punya Tuhan. Dan sekarang, kamu punya aku, aku mau kok jadi teman kamu.” Ucapku menenangkan seraya tersenyum manis kearahnya. “Heh,,, pede banget lo, siapa yang mau berteman sama lo. Hah?” tangkasnya menyebalkan, aku merengut dan cemberut. Ia pun tertawa dengan senangnya.

Hujan itu indah
Seindah bintang di langit malam
Secerah mentari di langit pagi
Dan sesejuk embun di kala fajar
Hujan mampu membuatku tersenyum dengan segala risau di hati
Hujan, mampu membuatku sejuk di kala dingin
Dan hujan, mampu membuatku lupa dengan keras dan kejamnya hidup ini
Jadi, seberapa lama aku berdiri di tengah hujan, aku tak pernah takut
Karena aku percaya, hujan adalah teman hidupku
Ia akan selalu melindungiku dengan air nya
Air yang mampu menyejukkan hatiku
Air yang selalu mampu menyinari hidup kelamku…
“Ih, dasar MONSTER HUJAN. Segala hujanlah dipuji puji, dibikinin puisi, lo kira dengan begitu? Hujan bakal ngeliat dan berteman sama lo? Hah?” ucap Rain yang tiba tiba saja sudah berada tepat dibelakangku, dan yang lebih menyebalkannya lagi dia membaca tulisanku tentang Hujan, lantas memperoloknya. “Ihhhhhhhhhh… dasar kamu nyebelin. Nggak sopan banget. Asal kamu tau, Hujan lebih berharga dan bernilai manfaatnya dibanding kamu. Hujan selalu membuat manusia tidak kekeringan, hujan mampu memberikan kesejukkan dan ketenangan, dan hujan adalah pembawa rahmat dari Tuhan.” Balasku sengit. “Cewek aneh dasar… MONSTER HUJAN JELEK. “ Ucapnya sambil menjulurkan lidah. Tik tik tik tik tik……….. hujan pun turun ditengah kami, Rain langsung terburu meneduh dan menghindar dari hujan. Sedangkan aku tetap berdiri ditengah sini, menengadahkan wajahku keatas seraya menatap dan tersenyum kepada langit sebagai ucapan terima kasih atas hujan sore ini. Aku kembali memainkan tubuhku dan menari berputar-putar dengan riang. Rain menatapku geli dari kejauhan. Aku hanya melambaikan tangan berusaha mengajaknya bergabung. Dengan tegas ia menolakku dan berkata. “Udah berapa kali gue bilang, GUE GAK SUKA HUJAN. DAN GAK AKAN PERNAH MENYUKAINYA….” Teriaknya kencang denga wajah galaknya.
Hujan mulai mereda beberapa menit kemudian, aku kembali menghampiri Rain yang tengah duduk di halte seperti biasa. “Hujannya cepat sekali reda, aku kurang puas bermain bersamanya.” Ucapku dengan langkah gontai. Rain hanya menggelengkan kepalanya bertanda ia tak peduli. Tiba tiba saja kepalaku mendadak pusing, badanku terasa bergetar hebat dan menggigil, “Rain… Ra… iiiin…” Tiba-tiba tubuhku jatuh tergeletak begitu saja, Rain panik sekaligus bingung dibuatnya. Ia pun memapah tubuhku ke bangku halte sambil meneriakkan namaku, “Ra,,,, Ra,,, lo bangun dong. Lo kenapah si? Ra,, Please, jangan bikin gue bingung ginih.” Ucapnya dengan wajah kebingungan. Tak lama kemudian ia memajukkan wajahnya ke wajahku dengan bermaksud memberikan nafas buatan untuku agar aku segera tersadar, “Ahhhhhhhhh,,, kamu mau ngapain aku?” teriakku kencang tepat didepan wajahnya. Wajahnya terlihat tersipu merah dan malu. “Kamu mau cium aku?” ucapku dengan nada polos. “Hah? Gue mau nyium lo? Naksir ajah ogah, apalagi nyium lo. MALES…” Aku hanya bisa cemberut dibuatnya.
Keesokan harinya seperti biasa, saat sore hari hendak berlalu dan senja mulai datang menghampiri. Aku kembali terduduk di halte ini, dengan wajah muram dan masam aku terdiam tanpa banyak kata. Lagi dan lagi Rain selalu ada saat aku beada disini, entah kenapa aku selalu menyukai kehadirannya. Dan entah kenapa pula, aku tak mengerti sejak mengenalnya ia selalu menemaniku tanpa sengaja tanpa janji. Ia lantas duduk disampingku, menatapku dengan banyak tanda Tanya. Ya, benar. Kali ini aku berbeda. Rasa sakit ini kembali muncul, aku sungguh takut, takut kehilangan semuanya. Aku takut untuk tidak bisa menikmati hujan, aku takut kehilangan dan tak bisa bersama hujan, dan bersama RAIN. “Eh, lo kenapah diem ajah? Sakit gigi lo?”ucapnya seraya meledekku. Aku hanya menggeleng mendengar pertanyaannya. Lama terdiam aku dan rain pun membisu, tak banyak yang kami obrolkan. Lebih tepatnya, kali ini rain yang sering banyak bertanya tentangku. Dan kau tau? Aku hanya mengangguk dan menggeleng ketika a melemparkan pertanyaanya padaku. “Lo sakit yah?” tanyanya lagi. “Aku ngga papah, Rain.” Seruku mulai bersuara. ”Rain… sekarang kita berteman kan?” tanyaku seraya menatapnya. “Ya… “ jawab Rain singkat. “Kamu mau kan berjanji satu hal padaku?” tanyaku lagi, kali ini aku menatap mata birunya lebih dalam. Aku juga tak mengerti mengapa aku bisa berkata seperti ini, yang jelas hatiku yang mengucapkan semuanya. “Kamu harus janji, jika suatu saat nanti. aku udah nggak disini lagi, dan aku nggak bisa menikmati hujan pemberian Tuhan, Dan Aku udah kembali dan bahagia sama Tuhan. Kamu harus janji, kamu akan menggantikan posisi aku untukmtetap ada disini, saat hujan turun dan saat senja menyapa seperti sore ini. “ “Maksud lo apasih? Gue kan gak suka hujan. Jadi, kalo lo minta gue duduk disini saat hujan datang dan berloncatan dan menari nari seperti hal yang selalu lo lakuin saat hujan datang. Itu mustahil, dan gak mungkin. Ngerti?” “Ini permintaan terakhir aku Rain… aku pengen kamu adalah orang pertama yang selalu mengenang aku, aku pengen kamu yang selalu duduk disini, aku pengen kamu yang selalu suka hujan, seperti layaknya aku yang menyukai hujan.” rain pergi begitu saja tanpa menghiraukan ucapanku sedikitpun. Tanpa terasa air mataku menetas, kalian tau? Hatiku terasa sakit sekali melihat sikapnya tadi. Apa aku tak berarti dimatanya? Apa aku tak bisa menjadi sepotong kenangan dihatinya?
Sudah dua hari ini hujan tak lekas turun membasahi bumi, aku rindu sekali dengan hujan. Dadaku terasa sesak seketika, rasa sakit ini mulai terasa sekali, oh Tuhan aku tak kuat, aku benar benar tak sanggup menahan ini semua kali ini. Aku terduduk lemas di bangku halte ini, seraya berharap ada seseorang yang dating mengahmpiriku. Dan Rain, ya dia Rain berjalan menuju ke arahku… “Ra…in… rain… aku sayang kamu…” itulah ucapan terakhirku untuknya. Tiba tiba saja sakit ini semuanya menghilang, aku terkulai kaku dihadapan Rain. “Ra,,,, Tiara… lo bangun ra… TIARAAAA….” Teriaknya keras. “Kenapa lo ninggalin gue ra? Kenapa lo setega ini sama gue? Lo tau kan? Lo adalah orang pertama yang mau kenal sama gue? Yang mau jadi temen baik gue, selalu disamping gue. Tapi kenapa sekarang lo pergi ninggalin gue? Kenapa lo pergi disaat saat kaya ginih, kenapa lo pergi disaat lo udah berhasil buat gue jatuh cinta sama lo ra. Lo jahat ra, lo jahat…” Rain mengeluarkan air matanya, untuk pertama kalinya aku melihat tetesan air mata itu jatuh dari mata biru Rain, untuk pertama kalinya, aku merasakan bahwa Rain sangat sangat kehilanganku. Dan utuk pertama kalinya, aku tersenyum getir diatas sini menatap Rain… hujan turun seketika membasahi bumi, membasahi tubuh Rain dan tubuh kaku ku. Rain segera ke tengah jalan dan berteriak teriak… “Lihat ra, lihat. Gue bakal nepatin janji gue. Lihat, sekarang gue disini, main hujan hujanan, nari nari seperti yang selalu lo lakuin. Lihat Ra,,,, sekarang gue suka hujan, gue suka hujan untuk lo. Gue suka hujan untuk mengenang lo.” “Walaupun, gue baru kenal sama lo terhitung hari, tapi entah kenapa hati gue serasa kenal dengan lo sejak lama. Gue sayang lo ra,, gue tau ini terlambat, tapi gue percaya lo bisa ngeliat ini kan? Ngeliat semua ini… “

End date: 09 November 2014.

End date: 09 November 2014.

End date: 09 November 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s