My life without Father

Hidupku, Tanpa Ayah

 

Kehilangan itu, sebuah kata yang sangat mengerikan untuk didengar. Apalagi jika dialami oleh diri kita sendiri. Aku pernah kehilangan, kehilngan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Dialah yang seharusnya menjadi pahlawanku, ayah. Sejak 12 tahun ynglalu, ayah pergi meninggalkanku. Pergi untuk selamanya, dan tak kan pernah kembali lagi. Usiaku saat itu baru menginjak 5 tahun. Dan diusiaku yang kelima itu, ayah meninggal. Karena penyakit yang dideritanya. Sebuah tumor ganas yang menimpa mulutnya. Dan karena tumor itu hidup ayah terenggut, sehingga ia tak pernah bisa untuk berbicara dengan jelas. Terkadang, untuk makan saja, ia harus bersusah payah menggunakan selangsebagai alat bantu makannya. Apakah kalian tahu, diusiaku yang sekecil itu. Aku belum pernah mengerti apa arti dari kehilangan?

Awalnya, semua tampak biasa saja. Namun setelah aku menginjak usia remaja perasaan kehilangan itu baru muncul. Ketika aku melihat seorang temanku yang diantar oleh ayahnya ke sekolah. Aku mulai merasa iri padanya, bahkan ketika idul fitri aku ingin selalu saja menangis saat semua orang meminta maaf, berpelukan, dan bersalaman dengan ayah mereka. Aku cemburu melihat keadaan tersebut dan rasanya aku ingin menangis sekencang-kencangnya. Kenapa, kenapa ayah pergi disaat aku membutuhkannya?

Ketika ayah meninggal dunia, pada tahun 2000. Kehidupanku dan keluargaku berubah drastis. Yang tadinya kami hidup berkecukupan. Kini, hanya tinggal satu rumah yang sangat sederhana untuk kami tempati. Karena semua uang tabungan ayah dan ibu sudah dipakai habis untuk masa pengobatan ayah. Sedangkan kakak, ia hampir saja putus sekolahsaat baru memasuki SMA. Namun, semua itu tidak terjadi. Untung saja seorang adik ayah (pamanku ) ia bersedia untuk membiayai semua biaya sekolah kakak, sehingga ibu terbebas dari biaya. Tapi, ibu tidak berhenti disitu saja. Ia terus mencari lowongan pekerjaan, yaitu sebagai tukang penyapu jalan. Besar upahnya saat itu hanyalah sekarung beras. Selain itu, ibu juga menitipkan lontong beras dan agar agar buatannya ke vwarung warung tetangga untuk dijajankan. Dengan jerih payah dan hasil kerja keras ibu semua, aku dan kedua kakakku hingga kini bisa memenuhi kebutuhan sekolah dan keseharian kami. Walau dengan serba pas-pasan, aku merasa beruntung dan bangga pada ibuku. Apakah kalian tahu? Sampai diusianya yang hampir menginjak 50 tahun, ibu masih tetap bekerja untuk membiayai sekolahku. Dengan menjaga anak dari kakakku yang pertama, ia bisa mendapatkan uang lebih untuk membiayai sekolahku di SMK. Aku tahu, ibu bisa saja menyuruh kakakku yang keduanya sama sama bekerja untuk membiayai sekolahku. Namu, inilah ibuku. Ia tak mau menyusahkan dan membebani anak-anaknya. Aku selalu teringat kata kata ibu “ kehidupan kita bisa lebih maju. Jika kita terus berusaha, rajin, tekun, dan jujur. Yang terpenting adalah kejujuran, kamu tidak pernah ibu ajarkan untuk berbohong dan jangan sekali kali kamu berbohong.”

Ya, seperti yang kubilang tadi. Ketika usiaku baru menginjak 5 tahun, aku belum menegrti apa arti kehilangan? Namun sekarang, aku mengerti apa arti kehilangan sesungguhnya? Dengan adanya kehilangan sosok Ayah dalam hidupku. Kini mengajarkanku untuk lebih tegar dalam menjalani kehidupan dan takdir yang diberikan Tuhan.

Terima kasih, TUHAN.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s