Gadis di rintik hujan

Ini cerpen paling jadul, gue buat sekitar awal tahun 2010. hehehehe, maklum idenya gak kreatif. Soalnya waktu itu juga gue masih baru anak SMK.

 

So, Happy reading aja deh…

 

Gadis di rintik hujan

 

Langit mala mini terlihat begitu mendung. Awan gelapnya tidak begitu bersahabat, suara gemuruh petir terdengar jelas ditelingaku. Dan sampai akhirnya rintik hujan pun dating menyerbu. “Hhuh, untung saja aku bawa mobil.” Ucapku segera melangkah menuju parkiran. Aku mengendarai mobil dengan penuh hati-hati. Kalian pasti tahu, jika hujan seperti ini pastilah jalanan licin dan untuk mengantisipasi kecelakaan. Aku mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat rendah. Kulihat sekelilingku, pohon-pohon sudah basah terkena guyuran air hujan. Nampaknya, hujan kali ini begitu lebat. Aku tertegun saat kedua mataku menangkap sosok gadis berambut panjang yang tengah bersimpuh di jalan trotoar. Mataku semakin tajam untuk memastikan apakah itu seorang gadis atau bukan. Rasanya penglihatanku normal-normal saja. Tapi, mengapa di tengah hujan  lebat seperti ini masih ada seorang gadis yang duduk tepat di tepi trotoar? Sedang apa dia? Apa dia sudah gila? Pertanyaan akan rasa penasaranku terhadap sosok gadis itu kian menjadi. Ingin sekali aku mendekatinya. Dan bertanya kepadanya tentang hal bodoh yang ia lakukan saat ini, tapi aku masih ragu untuk melakukannya. Aku memarkirkan mobil sedan hitam milikku ke pinggir trotoar, dimana sosok gadis tersebut dudukbersimpuh. Gadis itutetap tidak bergeming. Matanya tetap menunduk, sedangkan kedua tangannya telah memeluk erat lututnya. Aku mengamati setiap gerak-gerik gadis tersebut. “ku rasa, aku harus menghampirinnya.” Gumamku pelan. Dengan langkah cepat, aku keluar dari mobil dengan memegang paying kuning yang kubwa. Segera kudekati gadis itu,. Aku berjongkok tepat di hadapan gadis itu, dengan sangat ragu kusentuh bahunya pelan. Ia tetap saja tidak bergeming atau berekspresi sedikit pun. Aku bingung setengah mati. Harusnya ia menatapku atau setidaknya berbicara apa saja. “Hey nona. Ini sedang hujanlebat. Menagapa kau duduk di tepi trotoar seperti ini. Kau bisa sakit, nona.” Ucapku memperingatkan. Tak lama kemudian, ia mendongak dan beralih menatapku. Ekspresi wajahnya sangat datar, kulit dan bibirnya tampak begitu pucat, juga matanya yang agak sembab. “Hey, aku bicara padamu.” Ucapku sekali lagi. Kali ini gadis itu hanya membuang muka ke samping kanannya. “Kau dengar aku, tidak? Aku bicara padamu. Ini di tengah hujan lebat, kau tidak pulang ke rumahmu?” tanyaku lagi dengan sedikit membentak. “Sudahlah, jangan pedulikan aku.” Sahut gadis itu yang mulai membuka suaranya. “Bagaimana aku tak peduli denganmu. Jelas-jelas kau wanita, dan aku tak mungkin tega meninggalkan kau seorang diri di tengah hujan seperti ini.”. Gadis itu terdiam mendengar penuturanku. “Hey, jawab aku!” ucapku lagi dengan emosi memuncak. Gadis itu makin terdiam dan semakin menunduk. “Sebaiknya kau masuk ke mobilku, aku akan mengantarmu pulang.” Pintaku dengan segera menarik pergelangan tangan gadis itu. Ia berontak dan mendorong tubuhku kuat-kuat. “Aku gak mau. Tolong. Jangan pedulikan aku!” ucapnya keras dan membentak. “Dasar gadis aneh. Huh….” Teriakku di depan wajahnya. Aku kembali masuk ke dalam mobilku. Payung kuning yang kukenakan tadi entah kemana diterpa angin. Bajuku sedikit basah karena gadis tadi yang mendorongku hingga terjatuh dan terkena genangan air. Aku tak habis piker. Di zaman se-modern ini masih ada saja gadis aneh seperti dia. Gadis yang rela tubuhnya basah kuyup, gadis yang rela tubuhnya sakit, dan gadis yang rela duduk sendiri di tengah hujan lebat. Huh, benar-benar gadis yang aneh. Aku terus menggerutu kesal dalam mobil. Sampai di rumah, segera kubersihkan tubuhku dan berganti pakaian. Kulirik jam dinding di kamarku. “Sudah jam 10 malam ternyata.” Sampai saat ini, hujan tak kunjung berhenti. Aku kembali memikirkan gadis aneh di pinggir trotoar tadi. Aku jadi merasa bersalah telah meninggalkannya seorang diri. “Aduh, please deh adit. Ini tuh udah malam, waktunya untuk istirahat, bukan untuk mikirin gadis aneh yang tadi. Huft….” Ucapku seraya berbicara sendiri di depan kaca.

Kurebahkan tubuhku di kasur, rasanya hari ini benar-benar melelahkan. Kucoba untuk memejamkan mataku. Namun hasilnya selalu saja nihil, pikiranku selalu dipenuhi gadis aneh tadi. Aneh, aneh dan aneh. “Apa yang mesti aku lakukan, ini udah jam 11. Gimana keadaan tuh cewek? Nanti kalau ada orang jahat, gimana? Bodoh, kenapa aku ninggalin dia sendirian, harusnya aku maksanyauntuk naik ke mobilku. Setidaknya itu lebih aman, dari pada ia harus berdiam diri di pinggir trotoar tadi.”

Aku kembali bangkit dan segera masuk ke mobilku. Kujalankan mobilku dengan penuh kecepatan tinggi, aku kembali menatap gadis aneh yang di pinggir trotoar tadi. Kutarik lengannya kasar, dan penuh tenaga. Agar ia tidak berontak dengan apa yang telah aku lakukan. Namun, aku salah.gadis ini makin berontak dan tak mau ikut denganku. . tapi saying sekali, gadis ini terlihat begitu lemah dan tak punya tenaga banyak saat ini. Ia terjatuh ke pelukanku, dan rupanya ia tak sadarkan diri. Aku memapah tubuhnya hingga duduk tepat di sampingku. Kurebahkan tubuh kurusnya di kasur kamarku. Nampaknya, ia sangat sakit. “Ngh….” Ia sedikit mengerjapkan matanya perlahan. “Kau sudah sadar?” tanyaku. Gadis itu hanya mengangguk kecil. “Hujannya belum berhenti?” Tanya gadis itu dengan suara seraknya. “Iya, di luar masih hujan deras. Maaf, tadi aku memaksamu. Aku hanya tidak tega melihat seorang wanita yang duduk di pingir trotoar di tengah hujan seperti ini. Aku tak mau kau dianggap seperti orang gila.” Jelasku dengan lembut. “Aku memang gila, dan kau tak usah pedulikanku.” Ucap gadis itu setengah berteriak dan berlari keluar rumah. Kini, gadis aneh itu berdiri sambil menatap hujan dan berteriak tidak jelas. “Aku gila, aku gila…” ucap gadis itu berulang-ulang. Aku hanya menatapnya dengan tatapan bingung. Gadis ini benar-benar aneh…

Keesokan harinya, aku kembali bertemu dengan gadis aneh itu. Di sebuah mall, dandanan dan tatanan rambt serta pakaian dan wajahnya kali ini tampak berbeda sekali. Ia tampak cantik dan bersinar seperti bidadari. Kali ini, ia menyapaku dengan hangat. “Hai, terima kasih untuk yang kemarin ya. Kau sudah peduli denganku.” Ucapnya begitu singkat dan berlalu begitu saja.

Seperti pada umumnya. Ramalan cuaca kali ini sangatlah terbukti. Bulan November adalah musim hujan. Karena hamper setiap hujan turun denganbegitu derasnya. Aku kembali melajukan mobilku seusai meeting dengan clientku dari Sinagpura. Aku melewati trotoar itu lagi. Trotoar yang selalu saja dihuni oleh gadis aneh setiap hujan itu. Kali ini, gadis aneh itu sedang bersandar di pinggir trotoar sambil melamun. Dan seperti biasa pula, tanpa adanya dorongan apapun. Entah kenapa, aku selalu ingin menghampiri dan menemani gadis aneh itu menatap rintikan hujan. “Aku tak akan menyuruhmu untuk menyingkir dari hujan saat ini. Tapi bolehkah aku  menemanimu menatap rintikan hujan?” tanyaku pada gadis aneh itu. Ia hanya tersenyum dan mengangguk pasti untuk menjawab pertanyaanku. Sebenarnya, aku sangat bingung dan tak mengerti  mengapa aku bias sepeduli ini pda gadis ini. Namun, yang kurasa saat ini. Ahanyalah kedamaian, kenyamanan, dan ketengan hati saat bersamanya.

Tiga hari berturut-turut, aku selalu menemani gadis aneh ini menatap dan menikmati rintikan hujan. Dan selama tiga hari aku bersamanya, aku tak pernah tahu siapa nama gadis aneh itu. Karena setiap kali ku bertanya namanya, ia hanyamenjawab dengan sebutan hujan, hujan, dan hujan. Aku tak pernah mengerti apa maksud dari jawabannya itu. Tapi, ah sudahlah. Yang jelas saat ini, aku hanya senang berada di dekatnya. Entah cinta atau bukan, aku tak mau mempersalahkannya.

Hujan kali ini turun pada tengah malam. Sekitar pukul 23.35. aku keluar dan melaukan mobilku ke pinggir trotoar tempat biasa aku bertemu dengan gadis aneh itu. Aku menatap heran sekelilingku, tak seperti biasanya. Gadis aneh itu tidak duduk atau berdoro di pinggir trotoar ini. Yang ada hanyalah sebuah surat yang telah dibungkus oleh plastic bening. Aku membukanya perlahan.

“Dear: Adit

 

            Maaf, malam ini aku gak bisa menatap dan menikmati hujan di pinggir trotoar tempat biasa. Karena aku, aku sudah pergi jauh. Jauh, dan sangat jauh. Aku tak bisa berkata banyak padamu. Hanya sebuah ucapan terima kasih untukmu yang telah menemaniku.

 

 

Hujan     “

 

Seketika dadaku terasa begitu sesak. Buliran air mata membasahi pipiku. Aku menangis, dan terduduk di pinggir tyrotoar. Kembali kukenang saat-saatku bersama gadis aneh itu, gadis aneh yang bernama hujan. Tidak kusangka, aku bisa menangis hanya karena seorang gadis yang bernama hujan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s