Resensi buku A Gift from A Friend

Judul : A Gift From A Friend
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penulis : Merry Riana
Kategori : Biografi
Cover : Hard Cover

Hanya dalam waktu singkat, 4 tahun sejak kelulusannya dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Merry Riana telah mendapatkan penghasilan lebih dari 1 juta dolar melalui bisnisnya. Tidak tanggung-tanggung, berbagai media cetak di Singapura, dan negara-negara lainnya seperti Indonesia, Malaysia, bahkan Vietnam juga memuat artikel tentang keberhasilannya tersebut. Merry mencapai 1 juta dolar pertamanya di usia 26 tahun.

Sebagai tokoh masyarakat di bidang keuangan dan pendidikan di Asia, Merry telah membuktikan dirinya menjadi salah seorang individu yang paling dikagumi dan diperhatikan oleh berbagai media massa saat ini. Di usianya yang terbilang masih muda ini, Merry telah mencapai banyak kesuksesan. Bahkan lebih dari yang pernah dicoba dilakukan oleh orang-orang yang usianya dua kali lipat darinya. Bahkan berbagai penghargaan telah ia menangkan termasuk memecahkan rekor industri dari waktu ke waktu.

Merry bahkan sering disebut sebagai seorang pemimpin di bidang keuangan pribadi dan seorang konsultan keuangan wanita serba bisa oleh ribuan klien dan peserta seminarnya. Tak heran jika saat ini dirinya diakui sebagai salah satu pembicara terbaik di Asia.

Melalui buku A Gift From A Friend ini, penulis mengajak setiap pembacanya untuk berani bermimpi besar. Karena inilah yang menjadi titik awal keberhasilannya. Ia berharap melalui buku ini dirinya mampu memberikan inspirasi kepada para pembacanya dimanapun berada, dengan menciptakan dampak positif hingga akhirnya mampu mengubah kehidupan masyarakat bangsa Indonesia.

Di dalam bukunya ini, Merry menceritakan bagaimana dirinya yang berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja ini mampu menggapai kesuksesan dan mimpi-mimpinya. Dirinya terpaksa merantau ke Singapura di tahun 1998 silam. Pada awalnya tidak terbersit sedikitpun dibenaknya untuk melanjutkan studi ke luar negeri pasca sekolah menengah atasnya. Namun sejak terjadinya kerusuhan Mei 1998, dengan alasan keamanan, orang tuanya mendesak Merry untuk segera pergi ke luar negeri dan melanjutkan kuliah disana, paling tidak untuk mengungsi sementara waktu.

Saat itu dirinya diliputi perasaan khawatir dan sedih. Maklum ini pertama kalinya ia tinggal di luar negeri, jauh dari orang tua dan kelaurga. Apalagi setelah ia berangkat, ia tidak tahu kapan bisa pulang ke Jakarta dan berjumpa kembali dengan orang tuanya, terlebih harga tiket pesawat yang mahal pada saat itu.

Kini, masa-masa sulit itu telah berlalu. Merry yang awalnya pemalu dan sulit bergaul dalam Bahasa Inggris, telah menjejakkan kaki di puncak kesuksesannya. Dengan lugas ia mengajak pembaca untuk turut menyelami kehidupannya. Seperti saat di awal kuliah ia harus berhutang hingga ratusan juta rupiah kepada pemerintah Singapura untuk membayar biaya pendidikan dan biaya hidupnya. Menurutnya, apa pun yang dapat kita bayangkan, asal kita percaya, maka semuanya itu akan dapat dicapai. Berani bermimpi besar dan menggapai impian.

Hingga saat ini, buku ini telah diterjemahkan ke dalam 7 bahasa untuk menjangkau lebih banyak pembaca di pasar regional. Selain bahasa Indonesia, juga tersedia dalam bahasa Inggris, Mandarin, Melayu, Vietnam, Tagalog dan Myanmar. Bacaan yang menarik dan mengagumkan. Terlebih lagi bagi siapapun yang tertarik untuk terjun menjadi seorang entrepreneur.

Sumber: http://fandagri.blogdetik.com/resensi-buku-a-gift-from-a-friend/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s