Menulis “Universal”

Menulis “Universal”, saya suka sekali menulisnya. Saya menulis universal berdasarkan pengertian yang saya miliki. Apakah benar universal itu artinya dapat diterima semua elemen, semua golongan, semua manusia tanpa ada satu pun yang menolak?

Saya hanya sedang di pasar tradisional sambil memegang gadget menuliskan universal sehingga belum sempat membuka kamus bahasa Indonesia. Tanpa kamus, proses menulis universal terus berjalan. Dan saya contohkan pengertian universal menurut saya di bawah ini:

Tukang parkir boleh menulis, penjual boleh menulis, pedagang boleh menulis, obrolan santai boleh ditulis, project berburu pin juga dapat ditulis. Apapun boleh ditulis, sampai hal-hal yang tidak boleh ditulis ternyata boleh ditulis dalam konteks tertentu.

Menulis dapat menyatukan dan mempertemukan orang-orang dengan perbedaan, mempertemukan yang terpisah, menemukan yang hilang, saling bertaut berkaitan, menjelaskan ketidakmengertian atau saya sudahi bahasan yang agak menyimpang dari kata universal.
Universal, duh. Kok, malah berhenti di sini bahasannya? Apa karena saya sedang di pasar dan lalu lalang pembeli menjauhkan saya dari fokus universal.
Belum saya teruskan, datang sekelompok tim Baygon memasang tenda untuk dangdutan di pasar, apa penyanyi nya juga seorang penuis juga?

Bersambung saja, mulai tidak fokus membahas universal. Malah ingin bahas trik selling produk gara-gara kemunculan salesgirl dan seperangkat solo organ. Wah, wah, wah, sudah ya.
Bersambung.

 

 

 

Sumber: Afsoh publisher.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s